Menu of International Relations

journals in the bowl

Liga Bangsa-Bangsa

26 April 2013 - dalam Organisasi Internasional Oleh sartika-t--fisip10


Liga Bangsa-Bangsa merupakan kerjasama internasional yang terbentuk paska Perang Dunia I. Hal ini dilatarbelakangi oleh aktor-aktor internasional yang menginginkan berhentinya perang dan terciptanya perdamaian dunia. Sebelum LBB berdiri, terdapat beberapa kerjasama internasional yang telah terbentuk, seperti Palang Merah Internasional (1864), Persatuan Telegraf internasional (1865), Organisasi Meteorologikal Internasional (1878) dan Peradilan Internasional (1899). Salah satu pelopor besar dari terbentuknya LBB adalah Presiden AS, Woodrow Wilson (1913-1921). Sebelum Amerika terlibat dalam Perang Dunia I, Wilson telah mengajukan usul mengakhiri perang dan mencapai perdamaian yang dikenal dengan Peace Without Victory yang berisikan: perjanjian rahasia tidak diperbolehkan, semua bangsa memiliki kedudukan yang sama dan pengurangan persenjataan (Badrika 2006: 66).

Usulan Peace Without Victory kemudian dimasukkan ke dalam Wilson’s Fourteen Points pada tanggal 8 Januari 1918, sebagai perwujudan keinginan Amerika untuk menciptakan perdamaian. Adapun inti dari Wilson’s Fourteen Points, yaitu: diplomasi rahasia tidak diperbolehkan, pemberian hak bagi bangsa-bangsa untuk menentukan nasib sendiri, mengurangi persenjataan dan usulan pembentukan LBB. Dengan demikian terbentuklah LBB melalui sidang pertama yang diadakan pada Januari 1920 di Geneva, Switzerland sekaligus menjadi markas LBB. Adapun tujuan dari LBB, diantaranya: menjamin terciptanya perdamaian dunia, menghentikan perang, tunduk pada perjanjian dan hukum internasional dan melakukan diplomasi terbuka (Badrika 2006: 66). Negara-negara yang tergabung dalam keanggotaan LBB sebanyak 60 negara, tetapi AS sendiri sebagai negara pelopor LBB tidak ikut bergabung dalam keanggotaan LBB. Prinsip-prinsip dan pengaturan dalam LBB tercantum dalam League of Nations Covenant (1919) (http://avalon.law.yale.edu/20th_century/leagcov.asp). Aturan dalam LBB sifatnya sukarela dan tidak mengikat. Oleh karena itu negara anggota LBB dalam menjalankan kebijakan LBB bersifat sukarela untuk mentaati ataupun tidak mentaati.

 LBB terdiri dari beberapa badan yang memiliki tugas masing-masing (Badrika 2006: 66-68). Pertama, Sidang Umum, di mana tiap negara memiliki 3 perwakilan untuk melakukan sidang sekali setahun di Geneva. Tugas dari Sidang Umum adalah membahas masalah-masalah diantara negara anggota, pembuatan rencana keuangan LBB, pemilihan hakim-hakim mahkamah internasional, penerimaan anggota baru dan menetapkan atau mengubah perjanjian internasional. Sistem pengambilan keputusannya menggunakan one country one vote. Kedua, Dewan Keamanan yang beranggotakan 15 anggota yang terdiri dari 5 anggota tetap dan 10 anggota tidak tetap. Anggota tetap berasal dari negara-negara besar yaitu Inggris, Perancis, Italia, Jepang yang memiliki hak veto. Pergantian anggota tidak tetap dilakukan sekali 3 tahun. Tugas dari Dewan Keamanan diantaranya: penyelesaian perselisihan internasional, melindungi negara anggota dari serangan negara lainnya dan melindungi LBB. Adapun sanksi yang diputuskan oleh dewan tetap dalam aturan LBB, yaitu: sanksi moral dengan peringatan secara sopan; sanksi ekonomi dengan melakukan pembatasan perdagangan pada negara yang dikenakan sanksi; dan sanksi militer sebagai langkah terakhir yang melibatkan pasukan militer (http://www.historylearningsite.co.uk/leagueofnations.htm).

Ketiga, Sekretaris Tetap yang berkedudukan di Geneva yang memiliki tugas sebagi berikut: memenuhi kebutuhan LBB dan mencatat perjanjian-perjanjian internasional. keempat, organisasi tambahan yang mengurus hal-hal mengenai ekonomi, kesehatan, tehnik dan keuangan. Selanjutnya terdapat pula organisasi di bawah LBB yang memiliki status otonomi, yaitu: ILO (International Labour Organization) yang mengurus kepentingan perburuhan dan Mahkamah Internasional (International Court of Justive) berkedudukan di Den Haag yang bertugas menyelesaikan perselisihan-perselisihan internasional sesuai dengan hukum internasional yang berlaku. Dalam perkembangan LBB, terdapat beberapa perjanjian internasional yang diselenggarakan, diantaranya Geneva Protocol (1924), Locarno Pact (1925) dan Kellog-Briand Pact (1982).

Sementara itu, terdapat pula beberapa hasil yang dicapai oleh LBB, diantaranya: pertama, permasalahan Kepulauan Aland di daerah Finlandia yang ingin menggabungkan diri dengan Swedia yang akhirnya menjadi wilayah status otonomi dan tetap berada di bawah Finlandia; kedua, masalah perbatasan Mosul yang diperselisihkan oleh Turki dan Inggris; ketiga masalah Manchuria dan Abessynia. LBB mengeluarkan keputusan terhadap kasus di Manchuria dan Abessynia, namun Jepang (Manchuria) dan Italia (Abessynia) tidak menghiraukan keputusan dan sanksi LBB. Hal ini menunjukkan kelemahan dari LBB yang akhirnya runtuh pada tahun 1945 sebagai bentuk kegagalan LBB mengatasi perselisihan internasional (http://www.historylearningsite.co.uk/leagueofnations.htm). Faktor-faktor runtuhnya LBB disebabkan oleh beberapa hal, yaitu: peraturan yang dibuat bersifat tidak mengikat dan sukarela, tidak memiliki kekuasaan yang nyata dalam menuntut negara yang melakukan pelanggaran, terlalu lemah terhadap negara-negara besar dan pengalihan tujuan perdamaian ke politik.

Berdasarkan uraian di atas, penulis berpendapat bahwa keruntuhan LBB merupakan refleksi kegagalan kerjasama internasional dalam menyelesaikan perselisihan internasional. Hal tersebut tidak lain disebabkan oleh lemahnya struktur dan aturan institusi di dalamnya serta tidak terbangunnya satu komitmen untuk menciptakan perdamaian internasional. Sehingga, sejauh mana kerjasama internasional itu bertahan dan efektif sangat dipengaruhi oleh pengaturan yang tegas dan cita-cita bersama. Tidak dapat dipungkiri, bahwa kehadiran negara hegemoni seperti Amerika dalam konteks LBB sebenarnya sangat dibutuhkan sebagai aktor yang memiliki kekuasaan lebih untuk mengontrol sistematika dari LBB itu sendiri.

 

Referensi

Badrika, Wayan. 2006. “Sejarah”. Jakarta: Airlangga, hal.66-69

Anom.2008. “The Covenant of the League of Nation” [online] tersedia dalam

http://avalon.law.yale.edu/20th_century/leagcov.asp [diakses pada 10 Oktober 2012]

Anom. 2002. “League of Nation” [online] tersedia dalam

http://www.historylearningsite.co.uk/leagueofnations.htm [diakses pada 10 Oktober 2012]

 

 



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

Facebook

Twitter

    https://twitter.com/tikatandirerung

Pengunjung

    114663